Ada seekor capung yang tak bisa pulang, ia tersesat oleh malam sementara lampion yang selalu ia bawa lenyap entah kemana.
Jalan yang disangkanya bisa ia mengerti, nyatanya hanya sekumpulan kebingungan yang tak henti menyandera pikirannya.
Himney kematian mendengung
Memburu, menghantui kaki nya
sayap nya gigil oleh hawa kecemasan
matanya yang besar mengkerut pias oleh ketakutannya sendiri.
Ia tak hanya tak bisa pulang, juga alpa bangsanya, lagu kenegaraan dan warna benderanya. Ia juga kekosongan rindu yang senantiasa menggit lembut seperti es krim ketika malam menyergap tubuhnya dalam lautan kesunyian.
“ aku kehilangan rindu, aku amnesia, duh…” lirih ia mengadu
Tiba di segaris perjanalan yang lurus membentang, ia menemukan stasiun-stasiun yang begitu sepi, tak pernah ia merasakan kesepian yang sangat seperti saat ini. Di sepanjang peron Angin hanya berdehem lalu membunyikan kengerian dengan lirih. Lalu gerbong-gerbong kereta bisu dan berkarat. Kata hanya ia temukan pada dinding apa saja yang kusam dan tak utuh lagi. Sepertinya makna pun telah banyak yang putus atau tak selesai.
Ditinggalkan tempat itu, lalu memburu hutan-hutan dengan kerimbunan dan aroma pinus yang basah, tetapi disana hanya tanah lapang dengan sebuah kamboja besar ditengahnya, nisan-nisan tergolek tak teratur memenuhi tanah lapang. Disnikah cerita tentang kebiadaban resah dunia ini telah dilukiskan ?
“ duh! Bahkan aku takut menduga-duganya,”
Dengan keputus-asaan yang memuncak ia melesat tinggi ke langit. Berjuta kesedihan dipanggulnya susah payah yang membuatnya begitu emosional memacu angin dengan sayapnya yang berdengung keras. Air mata tumpah dibawanya pula, nisan-nisa terkubur oleh air matanya yang membanjir.
“begitu bengis kah jalan yang kau berikan ? tubuh ku yang begitu pipih telah direinkarnasi dengan luka yang sama. Aku bahkan menjadi begitu hafal nyanyi sendu itu, aroma anyir darah dari luka yang terus menganga!”
Pada bumi yang tak mau berpihak dengannya, ia tinggalkan
Pada tanah yang menggersangkan rindu nya, ia tak mau lagi berpijak
Pada batu nisan yang telah menjadi kekasih sepanjang kisah, kali ini ia mesti menceraikannya bersama sepotong bulan yang mengintip dari reranting kamboja.
Di langit ia memilih bermukim, pada angan yang mencandui dan masih mau menemaninya tidur…
(16 April 2011, melintasi Semarang)
sekedar pengantar...
Rabu, 20 April 2011
Balada seeokor capung
Jangan Berhenti Mencintai Tuhan karena berbeda

(dialog keberagaman dalam film ? )
“ hanya kebodohan yang bisa menghancurkan keyakinan agama” (dialog dalam Film ‘?’ )
Sudah menjadi menu harian kita, problem keberagaman selalu mendera kehidupan berbangsa di negeri ini. Pemboman tempat ibadah, pengganyangan etnis hingga pembakaran dan pembunuhan terhadap aliran sesat. Sebuah ekpresi pencarian Tuhankah dalam diri kita?
Fakta sosial dan hsitoris bangsa ini adalah keberagaman, bangsa Indonesia suka atau pun tidak mesti menerima kenyataan bahwa ia disusun dari beribu-suku bangsa, beragam keyakinan agama belum lagi adat istiadat yang menjadi unsur penyusun kebudayaan kita sekaligus nafas berbangsa kita.
Kita mungkin tak mengelak hal tersebut, tetapi membicarakan perbedaan-lucunya- seolah sesuatu yang tabu, sensitif di negeri ini. Juga pekerjaan rumah yang tak kunjung usai bangsa ini justru adalah mencoba mencari formulasi yang tepat bagi kehidupan berbangsa dengan fakta sosial tadi.
Maka menjadi maklumlah kita, bila film terbaru garapan Hanung Bramantyo berjudul ‘?’ (baca tanda Tanya) ini mengundang reaksi khususnya dari kalangan agamawan. Mereka menuduh, film ini mempromosikan bolehnya seseorang untuk murtad dari agamanya. Setelah melihat sendiri film ini, saya justru menyimpulkan pandangan menuduh tersebut mungkin hanyalah kesimpulan yang diambil secara parsial belaka.
Memang ada tokoh dalam film yang mengambil setting lokasi kota lama, Semarang bernama Rika yang memilih menjanda dari suaminya yang muslim karena menolak di poligami. Ia kemudian memilih pindah agama yang membuatnya resisten dengan lingkungannya bahkan dengan kedua orang tuanya, hal yang paradox bahwa tokoh Rika tetap membiarkann anaknya tumbuh sebagai muslim –yang menarik bahwa logika cerita tokoh Rika ini seolah ‘patah’ dengan alur bahwa ia menolak poligami lalu pindah agama.
Menuduh bahwa film ini mempromosikan murtad itu boleh saya anggap parsial karena satu tokoh yang cukup penting dalam film ini, yakni Menuk perempuan muslimah yang taat dan bekerja di restaurant cina ini, dikisahkan lebih memilih menikah dengan tokoh Soleh ketimbang Hendra karena alasan Soleh seiman dengannya dan seorang muslim yang taat walaupun ia hanya pengangguran, tokoh menuk ini menjadi prototype muslimah yang masih memegang teguh keyakinan agamanya dan tak buruk bila tak sekuluer.
Film ini tidak sedang mengajari kita bagaimana hidup berdampingan dengan orang-orang yang berbeda agama, suku dan bahkan cara berpikir. Tetapi Hanung menurut saya sekedar menghamparkan wajah bangsa ini yang asli yang telah lama kita sembunyikan. Seolah keberagaman adalah aib yang mesti kita tutup rapat-rapat karena bila dibicarakan- apalagi dipraktekkan- secara terbuka, hanya akan menimbulkan kemarahan. Dan sejarah mempelihatkan betapa kebangsaan kita telah terkoyak babak belur oleh konflik agama dan suku itu.
Tetapi kita masih bias berlapang dada menerima fakta keberagaman tersebut, hingga konflik-konflik yang ‘melukai’ kebangsaan kita itu seperti api dalam sekam yang akan membesar sewaktu-waktu. Seperti penyakit yang bisa kambuh lagi. Lihatlah bagaimana pikiran-pikiran yang ditelorkan oleh Nurcholis Madjid dan Gus Dur yang kini telah almarhum, ditanggapi sinis bahkan dihalalkan darahnya itu hanya karena mencoba menerima kenyataan keberagaman tersebut.
Film ini hanya memperlihatkan –sekali lagi- kenyataan keberagam tersebut berikut dengan dampak-dampaknya. Walaupun masih ada sedikit bumbu dramatisasi didalamnya, tetapi secara keseluruhan film ‘?’ ini berupaya jujur dengan ‘wajah’ asli bangsa ini, perbedaan.
Kalaupun ada yang ‘tersinggung’ dengan paparan dari film tersebut juga patut dimaklumi dan diapresiasi. Sebab manusia punya cara tersendiri ‘mencintai’ Tuhannya. Mereka yang condong dianggap fundamentalis atau ortodoks tentu punya teks dalil yang mereka pakai untuk melegitimasi cara pandangnya, hanya pada tindakanlah kita bisa memaksakan cara pandang tersebut. Disinilah pemerintah mengambil peranan untuk mengatur warga negaranya dan menempatkan mereka sama dihadapan hukum dan sebagai warga negara. Pemerintah mesti tegas dan tidak dibingungkan oleh tekanan-tekanan kelompok tertentu. Pemerintah mesti sekuler dalam urusan ini, dan itu tidak mesti dikhawatirkan dapat mengikis keyakinan agamanya.
Pemerintah mesti sekuler itu dalam kerangka menjalankan fungsi kekhalifaan yang menjaga keteraturan masyarakatnya dan dunia ini pada umumnya. Dengan begitu masyarakat bisa belajar bahwa kita diciptakan Tuhan dalam kondisi berbeda-beda, Tuhan pun tidak menciptakan manusia untuk bersusah payah membenarkan Diri-Nya, Tuhan sudah benar andaipun seluruh manusia bersekutu untuk menolak-Nya. Maksud Tuhan menciptakan tidak lain kecuali hanya untuk menyembah-Nya.
Menyembah sesuatu yang kita akui serba maha adalah urusan mencintai, manusia menunjukan cara-cara yang beraneka ragam dalam mengekspresikan kecintaan-Nya itu. Dan inilah sisi unik maunusia sebagai mahluk yang kreatif, sebagai mahluk Tuhan diberi potensi akal. Manusia bahkan punya jutaan bahasa hanya untuk mengatakan “aku mencintai mu”
Artikulasi mencinta kita dengan berani mengakui cara yang berbeda inilah yang harus selalu tanpa hentinya kita pelajari bersama. Umat beragama boleh egois dalam mengharapkan keridhaannya, tetapi kita juga bisa menerima bahwa hamba Tuhan bukan hanya satu, karena hanya DIA yang boleh satu!
Semestinya film ini makin mendewasakan kita atas fakta keberagamaan bukan sebaliknya
Jadi bila tagline film ini adalah “masih pentingkah kita berbeda ?” menurut saya, masih cukup penting karena setidaknya ia mengajarkan kita untuk selalu mengkoreksi diri sendiri, selalu member kita ‘warna’ keseragaman.
Jadi jangan berhenti mencintai Tuhan hanya karena kita berbeda, dan sungguh cinta yang tulus tidak dengan kemarahan….


