biarlah semua bertumbuh dalam kaki hujan yang meliuk biarlah semua bertumbuh dalam kaki hujan yang meliuk
tentang rindu mu
tentang kisah mu
dan juga kecemasan kita
sekedar pengantar...
Kamis, 03 Juni 2010
biografi hujan
hanya hujan
Kita tak pernah punya apapun pada kenangan, selain kisah yang dilupakan waktu
Kita bahkan tak berhak pada masa depan, selain harapan dalam bingarnya janji
Lalu bagaimana aku menagih sesuatu yang tak kupunya Kita tak pernah punya apapun pada kenangan, selain kisah yang dilupakan waktu
Kita bahkan tak berhak pada masa depan, selain harapan dalam bingarnya janji
Lalu bagaimana aku menagih sesuatu yang tak kupunya.
Tapi begitulah kita, selalu dalam batas garis yang tak jelas
Lalu bagaimana aku menjelaskan suara kaki hujan yang berlarian diatap seng saat petang baru saja bertamu ? (lalu kembali datang dalam subuh yang gigil dan begitu pekat)
Bisakah aku akan berkata; denyut kaki hujan terdengar berbeda pada cuaca hati yang berbeda
Kurasa beberapa orang tak begitu ikhlas melepaskan romantisme hujan seperti beberapa lainnya tak bisa mengelak hujan hanya lah elegi yang memerihkan
Atau kah selalu antara persepsi hujan dan hujan itu sendiri melahirkan dua hal yang berbeda pada setiap orang yang berbeda;
- Seperti mafum diketahui, setiap perseteruan selalu ada pemenang dan pecundang
Tapi hujan tetaplah hujan, kenangan adalah kenangan, masa depan adalah miliknya sendiri, ataukah kita tak lagi punya kata untuk menjawab
Seperti kali ini aku mendengar hujan sebagai hujan. Tanpa pelangi, tanpa denyut, tanpa rasa, tanpa lampion, tanpa nafasmu, tanpa aroma, tanpa birahi, tanpa harapan, tanpa kenangan, tanpa janji, tanpa romantisme, tanpa dendam, tanpa kemarahan, tanpa iman, tanpa tuhan, tanpa iblis, tanpa rokok, tanpa kopi
Tak ada, selain hujan…
(akhir mei yang mencemaskan)


