aku membaca kisahkisah lalu yang membuat luka kembali basah. menikmati sayatannya
yang begitu tipis.telapak tanganku pun basah.ketentramanku mulai terusik.berapa banyak nikotin dan kafein yang mesti kuhirup untuk meredakan? atau seberapa jauh kuberlari pada sujudsujud kudus? semestinya aku sudah cukup kuat. atau belenggumu yang juga kuinginkan itu memang terlalu kukuh.
pada yang tersayang beruntunglah kau. aku menempatkanmu sejajar dalam trinitas kesayanganku...
(2009)
sekedar pengantar...
Minggu, 14 Maret 2010
Notes (2)
Catatan Lalu Dalam Mata Yang Purba
catatan lalu dalam mata yang purba
ah....warnanya kian sephia
masih juga aku terjaga dengan pikiranpikiran itu
"bertahun tahun aku mendayung nafas kian busuk, telah jadi apa aku dulu ?"
barangkali kisahkisah bergerak seperti pendulum
tapi sayang waktu bergerak linear, meski kadang kita merasa dia circular
barangkali aku masih merindui, tapi aku kehabisan energi.
melankoli yang hambar, sebab aku tak berminat memberinya rasa
bergegaslah semua perasaan yang hilir mudik sebelum kulumat kan kau dengan dendam
bersama malam yang pekat izinkan aku hidup sebagai pendendam
boleh jadi itu satusatunya alasan aku tetap harus berjalan
hiduplah dendam tinggal kau suluh di mata ku, memijar dan terus meletup
jangan jadi beku, aku mau tetap menikmati matahari setiap paginya, hingga kutemukan waktu yang tepat dan kubayar sesajen dendam ini dengan darahnya...
"segala puisi adalah dendam dengan aroma anyir darah!"
(2009)
Setelah Hujan Usai
sepi itu menenangkan
bila ditemani cemilan
dan lagu hujan
sebagai pengiring
dan waktu
terus berlalu
resahnya kau halau
untuk tak lagi kacau
setelah hujan usai
kini aroma tubuh ku
beku di ujung hidung mu
mungkin anyir
lalu menitis
sebagai sepi
lagi
(2009)


