Nenek itu begitu ringkih, dengan susah payah menyeret tubuhnya yang bongkok, masuk ke ruang reok
Mulutnya meracau dengan tembang nelangsa, siang tadi cucunya tewas dalam sebuah demonstrasi paling penat. Mulutnya kian meracau, kadang kala melengking dengan ratapan paling memilukan. Malam nenek yang malang kian memanjang dan memajang landskap kepiluan.
“kau renta tapi nasib mu sungguh retak !”
“kau reksa dengan siksa pada sayu mata mu yang redup”
Cucu mu adalah pejuang yang tak mati sia-sia, walau kau tahu telinga mereka bebal pada teriakan yang mestinya membuat mereka malu, sangat malu
Cucu mu adalah sedikit dari mereka dengan suara yang parau menghardik kekejian yang di praktekan, bahkan pada mata mu yang rabun itu bisa kau lihat dengan terang.
Nenek itu begitu renta, kulitnya keriput membungkus dagingnya yang tak banyak dan a lot, pegal seluruhnya sebab yang setia dengan minyak urut mu, mati di pinggir got dengan tangan masih terkepal!
sekedar pengantar...
Minggu, 31 Januari 2010
nenek seorang demonstran
Janji Itu Candu (dan monumen luka)
Janji itu candu
Yang
Melenakan
Membius
Sungguh, melenakan
Lalu kau memberi harapan, tapi kau bilang bukan janji tapi beri bukti.
Suara mu adalah suara yang ditempelkan pada baliho, posterposter dan kain spanduk
Senyum adalah kiasan bagi kekejian paling beringas.
Sungguh, aku adalah tawan bagi candu janji mu,
Sungguh dengan itu akal sehat ku nyaris kau lumpuhkan di tiap menitnya
Dan jadi lah aku penghamba pada janji
Pada harapan yang ku tau adalah sketsa paling ilutif
Sungguh itu pula yang membuat ku tak sadar bila sejak dulu
Tak ada irama, tak ada lagi getaran
Ia menjelma menjadi angin yang kerontang diatas padang sahara dalam musimnya yang paling gersang.
Bila sejenak kau menjenguk di akhir tahun nanti, mungkin kau akan temukan prasasti yang berlumut memangsa ilusi tapi kini jadi lingga untuk perayaan sekumpulan tahun penuh luka, dsitu kubangun stupa atau monument penuh luka.
Untuk tidak membuatnya menahah lalu membiak, aku tinggalkan monument luka dalam kesendiriannya, tak membuat lebih baik bila aku setia menunggu dengan wajah lugu yang kau bodohi,
Monument luka dari janji penuh candu. Ku ucap salam, semoga kau senang.


