Nenek itu begitu ringkih, dengan susah payah menyeret tubuhnya yang bongkok, masuk ke ruang reok
Mulutnya meracau dengan tembang nelangsa, siang tadi cucunya tewas dalam sebuah demonstrasi paling penat. Mulutnya kian meracau, kadang kala melengking dengan ratapan paling memilukan. Malam nenek yang malang kian memanjang dan memajang landskap kepiluan.
“kau renta tapi nasib mu sungguh retak !”
“kau reksa dengan siksa pada sayu mata mu yang redup”
Cucu mu adalah pejuang yang tak mati sia-sia, walau kau tahu telinga mereka bebal pada teriakan yang mestinya membuat mereka malu, sangat malu
Cucu mu adalah sedikit dari mereka dengan suara yang parau menghardik kekejian yang di praktekan, bahkan pada mata mu yang rabun itu bisa kau lihat dengan terang.
Nenek itu begitu renta, kulitnya keriput membungkus dagingnya yang tak banyak dan a lot, pegal seluruhnya sebab yang setia dengan minyak urut mu, mati di pinggir got dengan tangan masih terkepal!
sekedar pengantar...
"kaulah ilalang-ilalang yang mesti menyambung jiwa yang selalu gelisah, jangan berhenti, teruslah bertumbuh menjadi beringin yang kokoh pada hempasan angin"
Minggu, 31 Januari 2010
nenek seorang demonstran
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)



gua Suka..! (sesuatu yg dibuat Irwan AR, memank kadang2 bagus)
BalasHapustampilan Rumah Rindu sekarang tambah bagus juga ya..! atau karena komputerku yg Canggih..??? hehehe