Aku Slideshow: "TripAdvisor™ TripWow ★ Aku Slideshow ★ to Makassar. Stunning free travel slideshows on TripAdvisor"
sekedar pengantar...
Sabtu, 07 Mei 2011
Aku Slideshow
Rabu, 20 April 2011
Balada seeokor capung
Ada seekor capung yang tak bisa pulang, ia tersesat oleh malam sementara lampion yang selalu ia bawa lenyap entah kemana.
Jalan yang disangkanya bisa ia mengerti, nyatanya hanya sekumpulan kebingungan yang tak henti menyandera pikirannya.
Himney kematian mendengung
Memburu, menghantui kaki nya
sayap nya gigil oleh hawa kecemasan
matanya yang besar mengkerut pias oleh ketakutannya sendiri.
Ia tak hanya tak bisa pulang, juga alpa bangsanya, lagu kenegaraan dan warna benderanya. Ia juga kekosongan rindu yang senantiasa menggit lembut seperti es krim ketika malam menyergap tubuhnya dalam lautan kesunyian.
“ aku kehilangan rindu, aku amnesia, duh…” lirih ia mengadu
Tiba di segaris perjanalan yang lurus membentang, ia menemukan stasiun-stasiun yang begitu sepi, tak pernah ia merasakan kesepian yang sangat seperti saat ini. Di sepanjang peron Angin hanya berdehem lalu membunyikan kengerian dengan lirih. Lalu gerbong-gerbong kereta bisu dan berkarat. Kata hanya ia temukan pada dinding apa saja yang kusam dan tak utuh lagi. Sepertinya makna pun telah banyak yang putus atau tak selesai.
Ditinggalkan tempat itu, lalu memburu hutan-hutan dengan kerimbunan dan aroma pinus yang basah, tetapi disana hanya tanah lapang dengan sebuah kamboja besar ditengahnya, nisan-nisan tergolek tak teratur memenuhi tanah lapang. Disnikah cerita tentang kebiadaban resah dunia ini telah dilukiskan ?
“ duh! Bahkan aku takut menduga-duganya,”
Dengan keputus-asaan yang memuncak ia melesat tinggi ke langit. Berjuta kesedihan dipanggulnya susah payah yang membuatnya begitu emosional memacu angin dengan sayapnya yang berdengung keras. Air mata tumpah dibawanya pula, nisan-nisa terkubur oleh air matanya yang membanjir.
“begitu bengis kah jalan yang kau berikan ? tubuh ku yang begitu pipih telah direinkarnasi dengan luka yang sama. Aku bahkan menjadi begitu hafal nyanyi sendu itu, aroma anyir darah dari luka yang terus menganga!”
Pada bumi yang tak mau berpihak dengannya, ia tinggalkan
Pada tanah yang menggersangkan rindu nya, ia tak mau lagi berpijak
Pada batu nisan yang telah menjadi kekasih sepanjang kisah, kali ini ia mesti menceraikannya bersama sepotong bulan yang mengintip dari reranting kamboja.
Di langit ia memilih bermukim, pada angan yang mencandui dan masih mau menemaninya tidur…
(16 April 2011, melintasi Semarang)
Jangan Berhenti Mencintai Tuhan karena berbeda

(dialog keberagaman dalam film ? )
“ hanya kebodohan yang bisa menghancurkan keyakinan agama” (dialog dalam Film ‘?’ )
Sudah menjadi menu harian kita, problem keberagaman selalu mendera kehidupan berbangsa di negeri ini. Pemboman tempat ibadah, pengganyangan etnis hingga pembakaran dan pembunuhan terhadap aliran sesat. Sebuah ekpresi pencarian Tuhankah dalam diri kita?
Fakta sosial dan hsitoris bangsa ini adalah keberagaman, bangsa Indonesia suka atau pun tidak mesti menerima kenyataan bahwa ia disusun dari beribu-suku bangsa, beragam keyakinan agama belum lagi adat istiadat yang menjadi unsur penyusun kebudayaan kita sekaligus nafas berbangsa kita.
Kita mungkin tak mengelak hal tersebut, tetapi membicarakan perbedaan-lucunya- seolah sesuatu yang tabu, sensitif di negeri ini. Juga pekerjaan rumah yang tak kunjung usai bangsa ini justru adalah mencoba mencari formulasi yang tepat bagi kehidupan berbangsa dengan fakta sosial tadi.
Maka menjadi maklumlah kita, bila film terbaru garapan Hanung Bramantyo berjudul ‘?’ (baca tanda Tanya) ini mengundang reaksi khususnya dari kalangan agamawan. Mereka menuduh, film ini mempromosikan bolehnya seseorang untuk murtad dari agamanya. Setelah melihat sendiri film ini, saya justru menyimpulkan pandangan menuduh tersebut mungkin hanyalah kesimpulan yang diambil secara parsial belaka.
Memang ada tokoh dalam film yang mengambil setting lokasi kota lama, Semarang bernama Rika yang memilih menjanda dari suaminya yang muslim karena menolak di poligami. Ia kemudian memilih pindah agama yang membuatnya resisten dengan lingkungannya bahkan dengan kedua orang tuanya, hal yang paradox bahwa tokoh Rika tetap membiarkann anaknya tumbuh sebagai muslim –yang menarik bahwa logika cerita tokoh Rika ini seolah ‘patah’ dengan alur bahwa ia menolak poligami lalu pindah agama.
Menuduh bahwa film ini mempromosikan murtad itu boleh saya anggap parsial karena satu tokoh yang cukup penting dalam film ini, yakni Menuk perempuan muslimah yang taat dan bekerja di restaurant cina ini, dikisahkan lebih memilih menikah dengan tokoh Soleh ketimbang Hendra karena alasan Soleh seiman dengannya dan seorang muslim yang taat walaupun ia hanya pengangguran, tokoh menuk ini menjadi prototype muslimah yang masih memegang teguh keyakinan agamanya dan tak buruk bila tak sekuluer.
Film ini tidak sedang mengajari kita bagaimana hidup berdampingan dengan orang-orang yang berbeda agama, suku dan bahkan cara berpikir. Tetapi Hanung menurut saya sekedar menghamparkan wajah bangsa ini yang asli yang telah lama kita sembunyikan. Seolah keberagaman adalah aib yang mesti kita tutup rapat-rapat karena bila dibicarakan- apalagi dipraktekkan- secara terbuka, hanya akan menimbulkan kemarahan. Dan sejarah mempelihatkan betapa kebangsaan kita telah terkoyak babak belur oleh konflik agama dan suku itu.
Tetapi kita masih bias berlapang dada menerima fakta keberagaman tersebut, hingga konflik-konflik yang ‘melukai’ kebangsaan kita itu seperti api dalam sekam yang akan membesar sewaktu-waktu. Seperti penyakit yang bisa kambuh lagi. Lihatlah bagaimana pikiran-pikiran yang ditelorkan oleh Nurcholis Madjid dan Gus Dur yang kini telah almarhum, ditanggapi sinis bahkan dihalalkan darahnya itu hanya karena mencoba menerima kenyataan keberagaman tersebut.
Film ini hanya memperlihatkan –sekali lagi- kenyataan keberagam tersebut berikut dengan dampak-dampaknya. Walaupun masih ada sedikit bumbu dramatisasi didalamnya, tetapi secara keseluruhan film ‘?’ ini berupaya jujur dengan ‘wajah’ asli bangsa ini, perbedaan.
Kalaupun ada yang ‘tersinggung’ dengan paparan dari film tersebut juga patut dimaklumi dan diapresiasi. Sebab manusia punya cara tersendiri ‘mencintai’ Tuhannya. Mereka yang condong dianggap fundamentalis atau ortodoks tentu punya teks dalil yang mereka pakai untuk melegitimasi cara pandangnya, hanya pada tindakanlah kita bisa memaksakan cara pandang tersebut. Disinilah pemerintah mengambil peranan untuk mengatur warga negaranya dan menempatkan mereka sama dihadapan hukum dan sebagai warga negara. Pemerintah mesti tegas dan tidak dibingungkan oleh tekanan-tekanan kelompok tertentu. Pemerintah mesti sekuler dalam urusan ini, dan itu tidak mesti dikhawatirkan dapat mengikis keyakinan agamanya.
Pemerintah mesti sekuler itu dalam kerangka menjalankan fungsi kekhalifaan yang menjaga keteraturan masyarakatnya dan dunia ini pada umumnya. Dengan begitu masyarakat bisa belajar bahwa kita diciptakan Tuhan dalam kondisi berbeda-beda, Tuhan pun tidak menciptakan manusia untuk bersusah payah membenarkan Diri-Nya, Tuhan sudah benar andaipun seluruh manusia bersekutu untuk menolak-Nya. Maksud Tuhan menciptakan tidak lain kecuali hanya untuk menyembah-Nya.
Menyembah sesuatu yang kita akui serba maha adalah urusan mencintai, manusia menunjukan cara-cara yang beraneka ragam dalam mengekspresikan kecintaan-Nya itu. Dan inilah sisi unik maunusia sebagai mahluk yang kreatif, sebagai mahluk Tuhan diberi potensi akal. Manusia bahkan punya jutaan bahasa hanya untuk mengatakan “aku mencintai mu”
Artikulasi mencinta kita dengan berani mengakui cara yang berbeda inilah yang harus selalu tanpa hentinya kita pelajari bersama. Umat beragama boleh egois dalam mengharapkan keridhaannya, tetapi kita juga bisa menerima bahwa hamba Tuhan bukan hanya satu, karena hanya DIA yang boleh satu!
Semestinya film ini makin mendewasakan kita atas fakta keberagamaan bukan sebaliknya
Jadi bila tagline film ini adalah “masih pentingkah kita berbeda ?” menurut saya, masih cukup penting karena setidaknya ia mengajarkan kita untuk selalu mengkoreksi diri sendiri, selalu member kita ‘warna’ keseragaman.
Jadi jangan berhenti mencintai Tuhan hanya karena kita berbeda, dan sungguh cinta yang tulus tidak dengan kemarahan….
Minggu, 02 Januari 2011
(JIKA) UMURKU TAK CUKUP PANJANG MENYAYANGIMU
Jika puisi ku tak cukup indah menggambarkan cinta ku padamu, maka bacalah ketulusan dari dua mataku.
Jika laguku tak cukup merdu mengungkapkan perasaanku padamu, maka dengarkanlah debaran jantungku ditelingamu.
Jika nafasku tak cukup panjang menyebut utuh namamu, maka biarkanlah anging melafadzkan sisanya untukku.
Dan
Jika umurku tak cukup panjang menyayangimu, maka nyawaku berlebih untuk itu...
Senin, 20 Desember 2010
Press Release:
FSO Terus Menolak Pembangunan GDP
Makassar (20/12). BERBAGAI elemen masyarakat yang bergabung dalam Forum Somba Opu (FSO) terus menolak pembangunan Gowa Disovery Park (GDP) di kawasan budaya Benteng Sompa Opu. Puluhan komunitas/lembaga dan individu, dari unsur masyarakat sipil sampai akademisi, mahasiswa dan budayawan, telah menyatakan dukungannya atas sikap FSO tersebut.
Pengrusakan ruang budaya Somba Opu adalah kasus pelanggaran pertama terhadap UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Pemerintah baru menetapkan UU tersebut Oktober 2010. Pengrusakan cagar budaya yang berarti pelanggaran UU tersebut menurut Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, adalah extraordinary crime, kejahatan luarbiasa.
Menurut Asmunandar, dosen arkeologi Universitas Hasanuddin, pembangunan GDP merusak dan mengubah lanskap Benteng Somba Opu, mengganggu kawasan tersebut sebagai ruang budaya, juga menutup akses warga kota untuk mendapatkan ruang publik yang murah dan tenang.
“Pembangunan wahana seperti waterboom di kawasan itu juga akan mengganggu akses penelitian dan pengungkapan kebesaran Kerajaan Gowa yang masih terpendam. Somba Opu adalah bukti tak terbantahkan atas kebesaran masyarakat Sulawesi Selatan di mata dunia,” kata Asmunandar yang juga koordinator Forum Somba Opu.
Ahyar Anwar, sosiolog dan dosen Universitas Negeri Makassar, mengatakan bahwa GDP akan mengganggu, mengerdilkan atau bahkan menenggelamkan aktifitas-aktifitas budaya tradisional yang selama ini mengambil tempat di Benteng Somba Opu.
“Pembangunan wahana moderen sangat mungkin akan menenggelamkan perhatian publik terhadap warisan budaya tradisional Sulsel,” ungkap Ahyar Anwar.
*
SELAIN menolak pembangunan GDP di ruang budaya Somba Opu, FSO juga menolak Tim Evaluasi dan Pengendali yang ditetapkan Gubernur Sulawesi Selatan 15 Desember 2010, dua bulan setelah peletakan batu pertama pembangunan GDP.
M. Nawir dari Komite Perjuangan Rakyat Miskin (KPRM) menilai bahwa tim yang dibuat setelah pembangunan GDP berlangsung ini tak jelas akan mengendalikan apa. “Setelah memerintahkan penghentian sementara pembangunan GDP sebanyak dua kali, keluarnya SK tersebut seperti akal-akalan untuk meredakan protes. Dari namanya saja sudah mengasumsikan bahwa tim ini sepakat pembangunan GDP terus dilanjutkan dan hanya dikendalikan, meski kelak hasil studi mengatakan bahwa proyek GDP seharusnya tidak dibangun di kawasan Somba Opu,” kata Nawir.
FSO juga menilai bahwa pihak-pihak yang masuk dalam Tim Evaluasi dan Pengendali hanya individu-individu dari institusi formal dan/atau perwakilan institusi formal yang terlibat. Unsur masyarakat sipil sama sekali tak terwakili dalam tim tersebut.
*
TERKAIT penolakan pembangunan GDP di kawasan budaya Somba Opu, FSO telah mengambil langkah hukum dengan melaporkan Zainal Tayeb, direktur PT. Mirah Megah Wisata, dan Syahrul Yasin Limpo kepada Kepolisian Daerah Sulselbar.
“Kami akan terus mendesak pihak kepolisian untuk mengusut kasus ini. Jika langkah hukum ini tidak menunai tanggapan dari pihak kepolisian, kami dari Forum Somba Opu akan mengambil langkah-langkah lain,” kata Iwan Sumantri, dosen Arkeologi Unhas.
FSO juga telah mengambil langkah-langkah lain terkait pembangunan GDP ini, di antaranya melaporkan kasus ini ke lembaga-lembaga nasional dan internasional yang menangani kasus-kasus semacam ini.
*
FORUM SOMBA OPU yang dideklarasikan 14 Desember 2010 ini akan terus berjuang menghentikan pembangunan GDP di ruang budaya Somba Opu. FSO juga akan terus menggalang dukungan dari semua elemen masyarakat Sulsel bahkan Indonesia untuk menghentikan pembangunan GDP.
“Sejauh ini, diskusi-diskusi dan kampanye penggalangan dukungan terus kami lakukan, termasuk di dunia maya,” kata Asmunandar.
Catatan:
Untuk lebih detil soal Forum Somba Opu, silakan hubungi Nandar, koordinator (081-342-106-667) atau kunjungi website resmi kami di www.savebentengsombaopu.com dan akun twitter @savesombaopu.
--Jika Anda mau ikut mendukung penghentian pembangunan Gowa Discovery Park di kawasan budaya Somba Opu, mohon bantuannya menyebarluaskan press release ini! selengkapnya......
Selasa, 23 November 2010
atas nama masa lalu
kemarau menggelinding pelan
diamdiam menyusup dibalik waktu
kali ini musim tak juga tuntas mengirim ode; sebuah lagu murung
lalu atas nama masa lalu kau menjelma hantu disudut ingatan
seperti pengalaman berbau anyir...
kemarau menggelinding pelan
diamdiam menyusup dibalik waku
kali ini musim tak juga berujung
lalu atas nama masa lalu, segala haru telah kuhalau
seperti saat kita masih beruwujud kisah diawal paragraf
seperti musim dalam janin bernama waktu



